Apa Itu Kurikulum Merdeka? Ini Penjelasannya

Notification

×

Iklan

Iklan

Apa Itu Kurikulum Merdeka? Ini Penjelasannya

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:25 WIB Last Updated 2026-02-05T00:25:22Z


GURUABAD21.COM --
Pagi itu saya duduk di ruang guru sambil memandangi papan tulis yang masih kosong. Di tangan saya ada buku panduan baru dengan sampul sederhana bertuliskan Kurikulum Merdeka. Jujur saja, saat pertama kali mendengarnya, saya merasa ragu. Kurikulum baru lagi? Apakah ini hanya pergantian istilah, atau benar-benar membawa perubahan?


Pertanyaan itu ternyata juga muncul dari banyak orang tua, guru, bahkan siswa. Ada yang antusias, ada yang cemas, dan tidak sedikit yang bingung. Dari pengalaman mengikuti pelatihan, diskusi dengan rekan pendidik, hingga melihat langsung penerapannya di kelas, saya mulai memahami bahwa Kurikulum Merdeka bukan sekadar kurikulum baru, melainkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan.


Lalu, apa sebenarnya Kurikulum Merdeka? Mengapa disebut “merdeka”? Dan apa dampaknya bagi siswa, guru, serta orang tua? Artikel ini akan mengulasnya secara sederhana dan menyeluruh.


Pengertian Kurikulum Merdeka


Kurikulum Merdeka adalah kurikulum pembelajaran yang memberikan fleksibilitas lebih besar kepada sekolah, guru, dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kurikulum ini dirancang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik, bukan memaksakan satu standar yang sama untuk semua.


Kata “merdeka” di sini tidak berarti bebas tanpa arah, melainkan:


Merdeka belajar sesuai tahap perkembangan


Merdeka guru dalam mengajar


Merdeka sekolah dalam mengembangkan pembelajaran


Tujuan akhirnya adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna, relevan, dan berpusat pada siswa.


Latar Belakang Lahirnya Kurikulum Merdeka


Pengalaman belajar selama pandemi menjadi titik balik besar dalam dunia pendidikan. Saya masih ingat bagaimana siswa kesulitan memahami materi daring, sementara guru kewalahan mengejar target kurikulum.


Dari situlah muncul kesadaran bahwa:


Materi terlalu padat


Pembelajaran terlalu berorientasi nilai


Siswa kurang ruang untuk bereksplorasi


Kurikulum Merdeka hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Kurikulum ini menekankan kedalaman pemahaman, bukan banyaknya materi. Lebih sedikit konten, tetapi lebih bermakna.


Ciri Utama Kurikulum Merdeka


1. Pembelajaran Berpusat pada Siswa


Dalam Kurikulum Merdeka, siswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi. Mereka diajak aktif bertanya, berdiskusi, mencoba, dan merefleksikan.


Di kelas saya, misalnya, satu topik tidak lagi disampaikan lewat ceramah panjang. Siswa justru diminta mengamati, berdiskusi kelompok, dan mempresentasikan pemahamannya. Hasilnya? Mereka lebih terlibat dan berani menyampaikan pendapat.


2. Materi Lebih Sederhana dan Mendalam


Salah satu perubahan paling terasa adalah penyederhanaan materi. Guru tidak lagi dikejar target menuntaskan semua bab, tetapi fokus pada kompetensi inti.


Dengan materi yang lebih ringkas:


Siswa punya waktu memahami konsep


Guru bisa menyesuaikan metode belajar


Proses belajar menjadi lebih manusiawi


3. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)


Inilah bagian yang paling menarik menurut saya. Kurikulum Merdeka memperkenalkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai kegiatan belajar lintas mata pelajaran.


Melalui proyek ini, siswa belajar:


Gotong royong


Kreativitas


Bernalar kritis


Kemandirian


Kebhinekaan global


Saya pernah melihat siswa membuat proyek tentang lingkungan sekitar sekolah. Mereka turun langsung ke lapangan, berdiskusi, dan menawarkan solusi nyata. Di situlah saya melihat pendidikan benar-benar hidup.


4. Fleksibilitas bagi Guru dan Sekolah


Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi guru untuk:


Menyesuaikan metode mengajar


Mengembangkan modul ajar sendiri


Mengatur tempo pembelajaran sesuai kondisi kelas


Sebagai guru, saya merasa lebih dipercaya secara profesional. Kreativitas saya tidak lagi dibatasi oleh format yang kaku. Sekolah pun bisa menyesuaikan kurikulum dengan karakteristik siswanya.


Perbedaan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Sebelumnya


Perbedaan utama terletak pada pendekatan. Kurikulum sebelumnya cenderung berorientasi pada konten, seragam untuk semua, fokus pada nilai akademik; sementara Kurikulum Merdeka berorientasi pada kompetensi, fleksibel dan kontekstual, serta menekankan karakter dan proses belajar. 


Perubahan ini memang membutuhkan adaptasi, tetapi dampaknya terasa positif dalam jangka panjang.


Peran Guru dalam Kurikulum Merdeka


Dalam Kurikulum Merdeka, guru bukan lagi pusat informasi, melainkan fasilitator dan pendamping belajar. Guru membantu siswa menemukan potensi terbaiknya.


Ini menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi, lebih peka terhadap kebutuhan siswa, serta membangun hubungan yang humanis.


Peran ini tidak mudah, tetapi sangat bermakna. Saya sendiri merasa hubungan dengan siswa menjadi lebih dekat dan saling menghargai.


Peran Orang Tua dalam Kurikulum Merdeka


Bagi orang tua, Kurikulum Merdeka mengajak untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Nilai rapor bukan satu-satunya indikator keberhasilan.


Orang tua diharapkan: mendukung minat dan bakat anak, menghargai proses belajar, serta berkomunikasi aktif dengan guru. 


Ketika sekolah dan rumah berjalan searah, anak akan tumbuh lebih percaya diri dan bahagia dalam belajar.


Tantangan dalam Penerapan Kurikulum Merdeka


Tidak dapat dipungkiri, Kurikulum Merdeka juga memiliki tantangan, seperti adaptasi guru dan sekolah, pemahaman orang tua yang beragam, serta ketersediaan sarana pendukung


Namun, dari pengalaman yang saya lihat, tantangan ini bisa diatasi dengan kolaborasi, pelatihan, dan keterbukaan untuk berubah.


Kurikulum Merdeka mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang bertumbuh sesuai iramanya. Anak-anak tidak lagi dipaksa menjadi seragam, melainkan diberi ruang untuk menjadi diri sendiri.


Sebagai pendidik, orang tua, atau pemerhati pendidikan, kita sedang berada di fase penting perubahan. Kurikulum Merdeka bukan solusi instan, tetapi langkah berani menuju pendidikan yang lebih manusiawi dan relevan.


Dan dari ruang kelas sederhana itulah, harapan masa depan pendidikan Indonesia perlahan dibangun—dengan semangat merdeka belajar.***(SAB)