![]() |
GURUABAD21.COM -- Penerapan Kurikulum Merdeka di jenjang Sekolah Dasar membawa perubahan besar dalam perencanaan pembelajaran. RPP yang sebelumnya dikenal guru kini bertransformasi menjadi modul ajar, sebuah perangkat pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Bagi banyak guru SD, memahami bentuk dan alur modul ajar menjadi kunci agar pembelajaran berjalan efektif dan bermakna.
Pada praktiknya, modul ajar Kurikulum Merdeka tidak hanya berisi langkah mengajar, tetapi juga memuat tujuan pembelajaran, asesmen, diferensiasi, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dengan perencanaan yang tepat, guru dapat menciptakan pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa sejak dini.
Transformasi RPP Menjadi Modul Ajar
Dalam Kurikulum Merdeka, modul ajar dirancang lebih ringkas namun kaya makna. Guru tidak lagi dibebani format administratif yang panjang, melainkan difokuskan pada esensi pembelajaran. Modul ajar memuat komponen utama seperti capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, asesmen, serta refleksi guru.
Sebagai contoh, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD, guru dapat memilih topik teks deskriptif. Tujuan pembelajaran difokuskan pada kemampuan siswa memahami isi bacaan, menemukan ide pokok, dan menyampaikan kembali informasi dengan bahasa sederhana. Pendekatan ini sejalan dengan penguatan literasi dasar yang menjadi prioritas di jenjang SD.
Alur Pembelajaran yang Berpusat pada Murid
Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka menempatkan siswa sebagai subjek aktif. Pada tahap pendahuluan, guru dapat memantik minat belajar melalui pertanyaan kontekstual, seperti meminta siswa menceritakan benda favorit atau lingkungan sekitar mereka. Cara ini membantu mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.
Pada kegiatan inti, siswa diajak membaca teks, berdiskusi dalam kelompok kecil, serta mempraktikkan keterampilan menulis deskripsi sederhana. Aktivitas ini tidak hanya melatih kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi.
Sementara pada tahap penutup, refleksi menjadi bagian penting. Guru mengajak siswa menyimpulkan materi dan mengungkapkan pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa memahami proses belajar sekaligus melatih kesadaran diri.
Asesmen yang Fleksibel dan Bermakna
Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah pendekatan asesmen yang lebih humanis. Guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses belajar siswa. Asesmen diagnostik dilakukan di awal pembelajaran untuk mengetahui kesiapan peserta didik. Asesmen formatif digunakan selama proses belajar melalui observasi, diskusi, dan tugas kecil. Sementara asesmen sumatif dilakukan untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pendekatan ini memungkinkan guru memberikan umpan balik yang konstruktif dan menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.
Diferensiasi sebagai Kunci Pembelajaran Inklusif
Modul ajar Kurikulum Merdeka juga mendorong penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Guru dapat menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran. Misalnya, siswa yang masih mengalami kesulitan membaca diberikan teks lebih sederhana, sementara siswa yang sudah mahir dapat diberi tantangan tambahan berupa presentasi lisan atau proyek mini.
Dengan diferensiasi, setiap siswa mendapat kesempatan belajar sesuai kemampuan dan potensinya.
Contoh RPP Kurikulum Merdeka SD dalam bentuk modul ajar menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tidak lagi sekadar formalitas. Modul ajar menjadi peta yang menuntun guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang relevan, kontekstual, dan menyenangkan.
Melalui perencanaan yang baik, pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya membangun kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan karakter Profil Pelajar Pancasila. Inilah esensi Kurikulum Merdeka: memerdekakan guru dalam mengajar dan memerdekakan siswa dalam belajar. ***
