
GURUABAD21.COM, Papua Barat -- Pada suatu sore yang berangin di Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat, Gracia yang berusia lima tahun menunggu di pinggir jalan. Tas sekolahnya tergeletak di dekat kakinya, sementara seekor kucing berputar-putar dengan riang di sekitarnya. Dari seberang jalan, gurunya, Bertha, memanggil, “Gracia, hati-hati saat menyeberang jalan!”
Di dalam Pusat Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) Sinar Hungku, tawa anak-anak memenuhi ruangan. Satu per satu, anak-anak berbaris dan menyapa Bertha dengan tos dan tawa kecil—sebuah rutinitas yang menandai dimulainya proses belajar di pusat tersebut.
“Hari yang baik adalah ketika saya tiba di sekolah dan anak-anak menyambut saya dengan senyum dan sapaan hangat,” tutur Bertha sambil memeluk anak-anak, diiringi semilir angin sejuk pegunungan. “Itu menjadi sumber motivasi bagi saya untuk lebih bersemangat dalam menyampaikan pelajaran dan mengorganisir kegiatan.” sambungnya.
Meski hari ini suasana tampak hidup, sekolah ini tidak selalu ramai. Tingkat kehadiran anak sering berfluktuasi dan terkadang menurun drastis. Ruang kelas kerap kosong akibat cuaca ekstrem, anak-anak yang harus ikut orang tua bekerja di ladang, serta guru yang tidak dapat hadir.
“Jumlah guru sangat terbatas, dan ketika mereka menghadapi kendala atau urusan keluarga, tidak ada guru lain yang bisa menggantikan,” jelas Bertha, dengan raut wajah penuh keprihatinan.
Hingga tahun 2024, hanya tiga dari setiap lima PAUD di Pegunungan Arfak yang dapat beroperasi secara konsisten sepanjang tahun ajaran. Banyak yang terpaksa tutup sementara akibat kekurangan tenaga pendidik atau gangguan cuaca. Sekolah-sekolah lain di Papua Barat pun menghadapi tantangan serupa.
Kapasitas guru menjadi perhatian utama—sebagian besar pendidik belum memiliki pelatihan formal di bidang pedagogi anak usia dini, sehingga menyulitkan mereka dalam menyampaikan pembelajaran yang efektif dan interaktif. Partisipasi siswa pun mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, masih terbatasnya alat asesmen membuat evaluasi hasil belajar anak, khususnya anak dengan disabilitas, menjadi sulit dilakukan.
Ketidakpastian—tidak pernah tahu kapan sekolah akan kembali beroperasi—membuat orang tua merasa cemas. Namun demikian, di tengah kekhawatiran akan masa depan anak-anak mereka, banyak orang tua tetap berkomitmen.
“Harapan saya, anak-anak saya memiliki masa depan yang lebih cerah [dari saya],” ujar David, ayah Gracia, yang tetap percaya pada pentingnya pendidikan.
Taruhannya sangat besar. Tanpa akses terhadap pendidikan yang berkualitas, adil, dan inklusif, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dasar, termasuk literasi dan numerasi. Dampaknya bersifat jangka panjang: menghambat pembelajaran dan perkembangan anak, serta memperkecil peluang mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, sejak tahun 2024 UNICEF, bekerja sama dengan Pemerintah Australia, bermitra dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di PAUD di seluruh Pegunungan Arfak melalui program Early Grade Learning.
Upaya ini difokuskan pada penguatan kapasitas guru dalam pembelajaran berbasis bermain dan interaktif, penyediaan bahan ajar lokal yang relevan secara budaya, serta peningkatan pertukaran pengetahuan antara guru PAUD dan guru sekolah dasar guna memastikan transisi yang lebih mulus bagi anak-anak. Program ini juga memberdayakan orang tua melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengasuhan positif.
Upaya bersama ini mulai menunjukkan hasil. Para guru melaporkan peningkatan kepercayaan diri dalam menerapkan metode pembelajaran interaktif dan memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk membuat pelajaran lebih menarik bagi siswa.
PAUD yang sebelumnya mengalami kehadiran tidak menentu kini mulai melihat partisipasi anak yang lebih konsisten, berkat praktik pembelajaran di kelas yang lebih baik dan dukungan orang tua yang semakin kuat. Para orang tua pun menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pembelajaran dini, gizi, dan kebersihan di rumah.
Pejabat pendidikan daerah kini mempertimbangkan perluasan pendekatan ini ke lebih banyak pusat PAUD di seluruh kabupaten. Pemerintah daerah telah mulai mengerahkan sumber daya untuk memperkuat layanan PAUD, termasuk memantau kehadiran guru dan mendorong keterlibatan orang tua yang lebih besar, sembari menutup kesenjangan dalam kapasitas guru dan ketersediaan bahan ajar.
“Kami akan memastikan lebih banyak pelatihan dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak guru, sehingga setiap anak di Pegunungan Arfak dapat merasakan pendidikan anak usia dini yang berkualitas,” ujar Kepala Seksi Pendidikan Anak Usia Dini pada Dinas Pendidikan Kabupaten.
Di antara para penggerak perubahan tersebut adalah para fasilitator guru yang mendampingi PAUD dan sekolah dasar. Mereka membantu memperkuat keterampilan mengajar lintas mata pelajaran melalui metode yang kreatif dan menarik.
“Para guru sebelumnya belum mengetahui bahwa seharusnya ada standar operasional prosedur (SOP) sebelum memulai kegiatan belajar di kelas,” jelas Maria, seorang fasilitator yang bertugas di wilayah tersebut.
“Dulu, guru hanya menyiapkan siswa (menjemput mereka dari rumah agar bisa bersekolah) lalu menyambut mereka saat masuk kelas.” lanjutnya.
Maria memperkenalkan rutinitas baru untuk memulai hari dan membagikan teknik-teknik praktis dengan menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar.
“Kita tidak selalu harus menggunakan angka yang tertulis di papan. Kadang kita bisa menggunakan batu, daun, dan benda sehari-hari lainnya untuk membantu anak-anak PAUD belajar berhitung dengan lebih mudah,” katanya.
Bagi Bertha, seluruh upaya ini—mulai dari perannya sebagai guru hingga dukungan para fasilitator dan mitra—merupakan bagian dari visi yang lebih besar.
“Pendidikan anak usia dini itu sangat penting. Sebagai ibu, kami berharap anak-anak ini mendapatkan hak mereka sepenuhnya sebagai anak, dan dalam 20 atau 25 tahun ke depan, mereka akan menjadi generasi luar biasa yang kembali membangun Pegunungan Arfak, khususnya kampung kami,” tuturnya.***
Sumber: Artikel UNICEF Indonesia