Tantangan Guru di Era Digital

Notification

×

Iklan

Iklan

Tantangan Guru di Era Digital

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10 WIB Last Updated 2026-02-04T05:55:01Z


GURUABAD21.COM --
Pagi itu ruang kelas belum sepenuhnya hidup, tetapi layar-layar ponsel sudah menyala. Beberapa siswa duduk dengan kepala tertunduk, jari mereka bergerak cepat, entah membalas pesan atau menelusuri media sosial. Seorang guru berdiri di depan kelas, memandang pemandangan yang dulu tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali memilih profesi ini. Di benaknya muncul satu pertanyaan sederhana namun berat: bagaimana caranya tetap menjadi guru yang relevan di era digital?


Era digital datang tanpa mengetuk pintu. Ia mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Di tengah perubahan itu, guru berada di posisi yang unik sekaligus rentan. Di satu sisi, guru dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi. Di sisi lain, ia harus tetap menjaga esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Tantangan guru di era digital bukan hanya soal menguasai perangkat, tetapi juga soal menjaga makna.


Salah satu tantangan terbesar adalah pergeseran peran guru. Dulu, guru dianggap sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, murid dapat menemukan jawaban hanya dengan satu kali klik. Situasi ini membuat sebagian guru merasa tersaingi, bahkan kehilangan otoritas. Namun, di sinilah tantangan sesungguhnya muncul: guru harus mengubah cara pandang. Otoritas guru tidak lagi terletak pada seberapa banyak informasi yang ia kuasai, melainkan pada kemampuannya membimbing murid dalam memahami, menyaring, dan memaknai informasi tersebut.


Di era digital, informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan langka. Guru menghadapi tantangan untuk mengajarkan literasi digital—bukan sekadar cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara berpikir kritis terhadap informasi. Hoaks, manipulasi data, dan konten negatif menjadi ancaman nyata. Guru dituntut untuk membantu murid membedakan mana yang benar, mana yang menyesatkan, serta bagaimana bersikap etis di ruang digital. Tugas ini tidak mudah, apalagi ketika guru sendiri masih belajar menavigasi dunia digital.


Tantangan berikutnya adalah ketimpangan akses dan kemampuan teknologi. Tidak semua guru dan murid memiliki fasilitas yang sama. Ada sekolah dengan perangkat lengkap dan koneksi internet stabil, tetapi ada pula yang masih berjuang dengan keterbatasan. Guru sering kali berada di tengah-tengah kondisi ini, berusaha memenuhi tuntutan pembelajaran digital sambil menghadapi realitas yang tidak ideal. Dalam situasi seperti ini, kreativitas dan empati menjadi kunci. Guru harus mampu menyesuaikan metode tanpa meninggalkan murid yang tertinggal.


Selain itu, era digital membawa tantangan dalam pengelolaan perhatian dan motivasi belajar. Dunia digital menawarkan hiburan tanpa batas, cepat, dan instan. Dibandingkan dengan itu, proses belajar sering kali terasa lambat dan menuntut usaha. Guru menghadapi kelas yang mudah terdistraksi, cepat bosan, dan terbiasa dengan kepuasan instan. Tantangannya bukan memerangi teknologi, melainkan menjadikan pembelajaran tetap bermakna dan relevan. Guru perlu merancang pengalaman belajar yang kontekstual, interaktif, dan menantang rasa ingin tahu murid.


Di balik layar-layar yang menyala, ada tantangan lain yang sering tidak terlihat: kesehatan mental dan emosional. Era digital tidak hanya memengaruhi murid, tetapi juga guru. Tuntutan untuk selalu siap, responsif, dan mengikuti perkembangan teknologi dapat menimbulkan kelelahan. Pesan yang datang di luar jam kerja, tekanan administrasi berbasis sistem digital, serta ekspektasi untuk selalu “melek teknologi” membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Guru dituntut untuk kuat, padahal ia juga manusia.


Tantangan guru di era digital juga menyentuh aspek pendidikan karakter. Ketika interaksi banyak terjadi di ruang virtual, nilai-nilai seperti empati, sopan santun, dan tanggung jawab sering kali tergerus. Guru harus mencari cara agar pendidikan karakter tetap hidup, meski pembelajaran dilakukan secara digital atau hybrid. Ini bukan perkara mudah. Guru harus menjadi teladan, menunjukkan etika digital, dan menciptakan ruang refleksi agar murid memahami dampak perilaku mereka, baik di dunia nyata maupun maya.


Di ruang kelas era digital, guru juga menghadapi tantangan evaluasi pembelajaran. Teknologi memudahkan akses, tetapi juga membuka peluang kecurangan. Ujian daring, tugas digital, dan kecerdasan buatan menuntut guru untuk merancang penilaian yang lebih autentik. Guru perlu beralih dari sekadar mengukur hafalan ke penilaian berbasis proses, pemecahan masalah, dan kreativitas. Tantangan ini menuntut perubahan pola pikir dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.


Namun, di balik semua tantangan itu, era digital juga membuka peluang. Guru yang mampu beradaptasi menemukan cara baru untuk terhubung dengan murid. Teknologi memungkinkan kolaborasi lintas ruang, akses ke sumber belajar global, dan pembelajaran yang lebih personal. Tantangan terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada kesiapan guru untuk berubah dan terus belajar.


Menjadi guru di era digital berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru tidak bisa berhenti pada apa yang ia pelajari di masa lalu. Ia harus terus memperbarui diri, bukan karena tuntutan semata, tetapi demi kebermaknaan perannya. Dalam proses ini, guru belajar menerima keterbatasan, meminta bantuan, dan tumbuh bersama komunitasnya.


Di akhir hari, ketika kelas telah kosong dan layar-layar dimatikan, guru era digital merenung. Ia sadar bahwa tantangan yang ia hadapi hari ini mungkin akan berbeda besok. Namun, ia juga tahu bahwa esensi profesinya tetap sama: mendampingi manusia dalam proses belajar dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Teknologi boleh berubah, metode boleh berganti, tetapi nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi.


Tantangan guru di era digital bukanlah beban yang harus ditakuti, melainkan perjalanan yang harus dijalani dengan kesadaran dan hati. Guru tidak dituntut untuk menjadi sempurna, tetapi untuk tetap relevan, reflektif, dan manusiawi. Di tengah dunia yang serba digital, kehadiran guru sebagai sosok yang peduli, bijak, dan inspiratif justru menjadi semakin penting.


Dan mungkin, di situlah makna terdalam menjadi guru di era digital: bukan mengalahkan teknologi, tetapi menuntun manusia agar tidak kehilangan arah di tengah kemajuan zaman.***(SAB)