Guru Abad 21: Humoris!

Notification

×

Iklan

Iklan

Guru Abad 21: Humoris!

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:33 WIB Last Updated 2026-02-04T05:34:24Z

 


GURUABAD21.COM -- 
Menjadi guru di abad ke-21 itu ibarat mencoba mengunduh file 10GB dengan koneksi dial-up di tengah badai petir. Secara teknis bisa, tapi secara mental? Kita butuh stok kesabaran yang lebih luas dari cloud storage Google.


Dulu, guru adalah satu-satunya "sumur ilmu". Kalau guru bilang Bumi itu bulat (atau datar, tergantung mood hari itu), murid akan manggut-manggut takzim. 


Sekarang? Begitu kita baru membuka mulut menjelaskan hukum gravitasi, seorang murid di barisan belakang sudah mengangkat tangan sambil memegang smartphone: "Tapi menurut podcast di Spotify, gravitasi itu konspirasi elite global, Pak!"


Seperti kata Alvin Toffler, “Orang yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa belajar, melepas pelajaran (unlearn), dan belajar kembali.”


Masalahnya, proses unlearning ini sakitnya melebihi putus cinta. Kita harus merelakan metode "ceramah satu jam sampai kapur habis" dan beralih menjadi fasilitator yang lebih mirip admin media sosial—harus responsif, kreatif, dan tahan banting terhadap komentar pedas (baca: nilai ujian yang ajaib).


Belum lagi tantangan Artificial Intelligence (AI). Saat kita begadang mengoreksi esai, murid kita "begadang" memasukkan perintah ke ChatGPT. Hasilnya? Esai mereka lebih puitis dari Chairil Anwar, tapi saat ditanya isinya, mereka cuma bisa nyengir kuda. Di sini, refleksi mendalam diperlukan: Apakah kita sedang mendidik manusia, atau sedang melatih robot untuk menipu robot lain?


Namun, di balik hiruk-pukuk Kurikulum Merdeka yang kadang bikin guru "merdeka dari waktu tidur", ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun: Empati.


AI bisa memberikan jawaban, tapi ia tidak bisa memberikan pelukan semangat saat seorang murid menangis karena gagal masuk PTN. AI punya data, tapi guru punya doa. Henry Adams pernah berujar, “Seorang guru berpengaruh terhadap keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti.”


Jadi, untuk rekan-rekan guru yang hari ini masih berjuang dengan tumpukan administrasi PMM sambil sesekali mengintip saldo sertifikasi yang belum cair: tenanglah. Anda bukan sekadar pengajar; Anda adalah kurator peradaban. Meski murid lebih sering menatap layar daripada menatap papan tulis, ingatlah bahwa cahaya yang Anda nyalakan di kepala mereka tidak akan pernah terkena low battery.


Mari terus mengajar dengan humor, karena kalau kita terlalu serius, kita akan cepat tua. Sedangkan gaji kita... yah, Anda tahu sendiri, pertumbuhannya lebih lambat dari proses evolusi kura-kura Galápagos.***(SAB)